Sunday, November 19, 2017

TODAY, 19 November: Kemurahan Hati Allah

TODAY, 19 November: 

Kemurahan Hati Allah

Kita terkadang melupakan kelapangan hati Allah...
Kesabaran-Nya...
Kebaikan hati-Nya...
Kemurahan hati Allah sesungguhnya tetap ada...
Bahkan kemurahan itu berlimpah-limpah di hidup kita...
Pengampunan-Nya tanpa batas...
Meskipun kita melakukan kesalahan yang sama...
Meskipun kita mengulangi lagi, itu dan itu saja...
Dia tetap mengampuni kita...
Yang Dia rindukan adalah pertobatan setulus hati kita...
Berbalik dari jalan yang keliru, menuju kepada jalan kebenaran-Nya...

Kita tak lepas dari dosa...
Itu sudah pasti...
Tetapi jangan sampai pula kita menyia-nyiakan kebaikan Allah...
Dan mempergunakan kebebasan kita seenaknya sendiri.

Semoga kita senantiasa menyadari bahwa Allah sungguh murah hati...
Dan tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi Dia yang sudah teramat baik di hidup ini bagi kita semua.

(-fon-)/Fonny Jodikin

Atau kalian pandang enteng kemurahan Allah dan kelapangan hati serta kesabaran-Nya yang begitu besar? Pasti kalian tahu bahwa Allah menunjukkan kebaikan hati-Nya karena Ia mau supaya kalian bertobat dari dosa-dosamu.
--- Roma 2:4 (BIS/ Bahasa Indonesia Sehari-Hari)

Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya  dan kelapangan hati-Nya?  Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
--- Roma 2:4 

Saturday, November 18, 2017

TODAY, 18 November: Jalan Kehidupan


TODAY, 18 November: 

Jalan Kehidupan

Pada suatu titik di kehidupan, kita mungkin dihadapkan pada persimpangan jalan.
Saat itu mungkin kita mengalami kebingungan: harus pilih jalan yang mana?
Jika hidup hanya untuk hidup belaka, mungkin salah-salah jalan, keliru belok dan sebagainya, tidaklah mengapa...
Tetapi jika kita hidup dan memilih untuk mengikut jalan kebenaran Allah, tentunya kita tidak bisa asal-asalan.

Jalan yang hendaknya kita pilih adalah jalan yang menuju hidup.
Jalan kehidupan.
Jangan sampai kita memilih jalan yang sesat, tanpa sepengetahuan kita...
Terus berdiam di situ, malah bertambah 'nyasar' tak tentu arah.

Semakin menjauh dari jalan kehidupan-Nya...

Memang tidak selalu mudah dalam memilih...
Tetapi, mari meyakini bahwa Tuhan memberikan dukungan dan bimbingan-Nya...
Melalui damainya suara hati saat melangkah...
Melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam diri...
Melalui Tuhan yang bekerja melalui sesama di sekitar kita...

Mari mohon kepekaan dari-Nya, agar kita mengikut jalan kehidupan Allah.
Semoga kita senantiasa dikuatkan dalam menjalani semuanya bersama Allah.
Mengikut jalan kehidupan yang membawa kita kepada kebenaran di dalam Dia.
Sepenuh sukacita dan dalam naungan damai sejahtera dari-Nya.
(-fon-)/Fonny Jodikin

Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya.
--- Amsal 5:6

Ia tidak tetap pada jalan yang menuju hidup; tanpa diketahuinya ia telah menyimpang dari jalan itu.
--- Amsal 5:6 (BIS/Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Friday, November 17, 2017

TODAY, 17 November: Hatiku Percaya

TODAY, 17 November: 

HATIKU PERCAYA 

Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu

Reff :
Hatiku percaya, hatiku percaya
Hatiku percaya, s'lalu ku percaya

(Oleh Edward Chen)

Lirik lagu di atas, terkadang menggambarkan keadaan kita dalam hidup ini.
Ada kalanya kita tak mengerti rencana-Nya...
Namun kita tetap memilih berpegang pada janji-Nya...
Tetap berharap hanya kepada-Nya...

Ya, hatiku percaya kepada Allah!

Karena Dia membawa sukacita...
Pengharapan di dalam Dia, takkan dikecewakan-Nya...
Hatiku percaya kepada-Mu, Tuhan...
Meskipun kenyataan tak seindah impian...
Aku meyakini, rancangan-Mu pasti yang terbaik bagi kami semua.
Amin.
(-fon-)/Fonny Jodikin

Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. 
--- Mazmur 33:21

Wednesday, November 15, 2017

TODAY, 16 November: Hidup Itu Adalah Berkat

TODAY, 16 November: 

Hidup Itu Adalah Berkat

Membaca Ayub Bab 7 ini, saya berhadapan dengan judul perikop yang menyentak dan biasa kita hadapi hari lepas hari.
Hidup itu berat.
Kita semua tahu, pada satu masa Ayub mengalami pergumulan yang sangat berat dan saat itu pasti Dia pun pernah merasakan bahwa sungguh keras hidup yang harus dia jalani.
Ada bulan-bulan yang sia-sia...
Ada malam-malam penuh kesusahan...
Ada helaan nafas yang rasanya sesak...
Ada air mata yang membanjiri bantal kepala...

Ya, pasti kita pernah mengalaminya...
"Bukankah manusia harus bergumul di bumi,  dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? 7:2Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,  7:3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku  malam-malam penuh kesusahan. 
--- Ayub 7:1-3

Dengan skala yang berbeda, pasti kita pernah berpikir bahwa hidup itu berat.
Sebagaimana kita bisa melihat dengan kacamata yang berbeda, hidup memang berat, tetapi kita diberi kekuatan untuk menjalaninya.
Bersama Allah, kita akan dapatkan kekuatan baru untuk melangkah.
Sehingga tak lagi ada alasan untuk bermegah, karena menyadari Dialah sumber kekuatan kita.

Hidup akan terasa berat, jika kita memilih untuk menganggap bahwa memang hidup itu sungguh suatu beban.
Tetapi jika kita melihat hidup itu adalah berkat...
Hanya menambahkan satu huruf, akan terjadi perbedaan.
BERAT versus BERKAT.
Berkat dari Allah yang bisa kita lihat dengan kacamata iman, membawa kita pada apresiasi akan kebaikan-Nya dan pada hidup itu sendiri yang adalah anugerah-Nya.
Bagaimana pun beratnya hidup, pasti ada berkat yang bisa kita lihat dalam keseharian hidup kita.
Semoga kita memilih melihat berkat dari Allah, ketimbang melihat hidup sebagai beban yang tiada habisnya.
(-fon-)/Fonny Jodikin

TODAY, 15 November: Pedih

TODAY, 15 November: 

Pedih

Hidup dan siklus kehidupan, pada suatu saat akan membawa kita pada rasa pedih.
Suatu kesedihan yang tak terperi...
Suatu kepahitan.
Sebuah luka yang menganga lebar...
Yang tanpa pernah kita sadari telah meninggalkan bekas yang teramat dalam.

Ya, memang itu pernah terjadi...
Seperti Ayub yang mengalami cobaan bertubi-tubi...
Dia pun merasakan kepedihan dan juga kepahitan...
Yang tak dapat lagi dia pendam...

Sebab itu aku tak dapat tinggal diam! Rasa pedih dan pahitku tak dapat kupendam. Aku harus membuka mulutku, dan mencurahkan isi hatiku.
--- Ayub 7:11

Seperti Ayub, mungkin kita harus mencurahkan isi hati.
Jika tidak, kepedihan yang disimpan sendiri, juga bisa mengakibatkan banyak tekanan pada jiwa.
Namun saat mencurahkan isi hati ini, tentunya harus berhati-hati...
Tak jarang, orang yang kita kira 'aman' untuk menampung curhat kita, ternyata kemudian malah berbalik menyebarkan gosip tentang kita.

Curhat dengan orang yang terpercaya, tentunya akan membawa kelegaan tersendiri.
Perasaan dimengerti, kita butuh didengarkan...
Dan dalam doa, ungkapkan semua keluh kesah kita kepada Allah.
Allah yang selalu mengerti dan mau mendengarkan...
Meskipun mungkin di tengah seluruh badai kehidupan kita mempertanyakan kepedulian dan kasih-Nya pada kita...
Tetapi sesungguhnya, Dia memahami setiap kepedihan yang kita rasakan.

Pedih, perih, kubawa berlari menuju kepada Allah Bapa saja.
Hanya Dia yang mengerti segala sesuatunya...
Mari kita mencari wajah-Nya.
(-fon-)/Fonny Jodikin

Tuesday, November 14, 2017

TODAY, 14 November: Seperti Angin

TODAY, 14 November: 

Seperti Angin

Entah mengapa, saya sungguh suka memperhatikan fenomena alam...
Salah satunya adalah angin...
Saat angin berhembus perlahan, membelai rambut panjang gadis belia...
Saat angin kencang diiringi hujan lebat memaksa orang-orang untuk mengeluarkan payung atau berlindung di suatu tempat untuk sementara waktu...
Saat angin topan dan badai datang semisal taifun dan meluluh-lantakkan suatu tempat.
Angin, ya angin...
Dengan berbagai jenis dan variasinya, angin bagi saya cukup menakjubkan...

Mazmur 144 mengangkat sedikitnya kisah tentang angin.
Manusia sama seperti angin...
Harinya seperti bayang-bayang yang lewat...
Ya, demikianlah hidup kita manusia...
Sekadar 'numpang lewat' saja di dunia ini...
Sekelebat saja hidup kita di sini...
Namun, dalam waktu yang singkat itu...
Entah berapa puluh sampai mungkin seratus tahun usia kita...
Mampukah kita memberi arti?
Apakah kehidupan yang kita jalani mampu menyentuh kehidupan orang lain/sesama kita?

Atau...???
Kita hanya hidup hura-hura, tanpa peduli bahwa satu saat ini semua yang hanya sementara saja, akan berakhir juga...?


Semoga hidup kita berarti...
Meskipun kecil. Meskipun hanya sekelebat seperti bayang-bayang lewat.
Meskipun hanya seperti angin...
Tetap percaya bahwa jika Tuhan hadirkan kita di dunia...
Tak ada yang kebetulan.
Dia punya rencana atas kita...
Semoga hidup kita senantiasa berpegang kepada-Nya...
Semoga hidup kita pun menyenangkan hati-Nya.
Amin.
(-fon-)/ Fonny Jodikin

Manusia sama seperti angin,  hari-harinya seperti bayang-bayang  yang lewat.
--- Mazmur 144:4

Sunday, November 12, 2017

TODAY, 13 November: Sauh Yang Kuat

TODAY, 13 November: 

Sauh Yang Kuat

Jujur saja, saya pribadi pernah merasa dilanda keraguan yang besar.
Saya pun pernah merasa, hidup ini koq begini-begini saja...
Pengharapan? Apa itu?
Mengapa kenyataannya begitu memilukan???


Tetapi, jika kita terus melihat seperti itu, kita melupakan rahmat Allah dalam kehidupan kita.
Pengharapan itu akan selalu ada.
Meskipun saat ini hampir seluruh keadaan hidup kita gelap sekalipun...
Lilin kecil yang bernama pengharapan itu tetap menyala.
Meskipun samar-samar.
Meskipun nyalanya hampir terkalahkan gelapnya ketakutan dan kebimbangan...
Jangan kita menyerah...

Alkitab mengingatkan kita bahwa:
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir
--- Ibrani 6:19

Dalam edisi BIS, berbunyi sebagai berikut:
Harapan kita itu seperti jangkar yang tertanam sangat dalam dan merupakan pegangan yang kuat dan aman bagi hidup kita. Harapan itu menembus gorden Ruang Mahasuci di Rumah Tuhan di surga.
--- Ibrani 6:19 (BIS/ Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Jangan kita menyerah...
Terus berpengharapan di dalam Allah...
Iman yang sebesar biji sesawi itu pun mampu memindahkan gunung...
Harapan itu semoga terus kita pupuk...
Sebagai sebuah jangkar yang tertanam sangat dalam...

Sebagai sebuah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita....
Jangan pernah mengecilkan artinya barang sedikit pun...
Karena harapan itu mampu menembus gorden Ruang Mahasuci di Rumah Tuhan...
Terus berjuang dalam segala daya upaya kita...
Dan terus berpengharapan di dalam Dia.

Semoga kita terus mempercayakan hidup ini ke dalam naungan tangan kasih-Nya.
Amin.
(-fon-)/ Fonny Jodikin