Weekly Thoughts
22 Februari 2026
Suka dan Duka
Imlek seharusnya identik dengan sukacita.
Saat keluarga berkumpul dalam rasa syukur dan
penuh kebersamaan.
Di mana warna merah mendominasi.
Dan ang bao menjadi sesuatu yang dinanti.
Terutama oleh anak-anak, ya tentunya.
Tahun ini, Imlek kami tidak sama dengan imlek
di tahun-tahun sebelumnya.
Keluargaku berkumpul.
Akhirnya.
Karena kami tinggal di tempat yang berbeda,
tidak mudah untuk kumpul keluarga.
Namun kami berkumpul dalam keadaan duka.
Meskipun di sela-selanya, kami pun bersyukur
atas kesempatan bertemu sekali lagi.
Warna putih dan hitam mendominasi.
Bukan pemandangan yang umum saat Imlek.
Tapi aku pasrah, jika ini sudah menjadi
ketetapan Ilahi.
Tidak setiap orang mengalami keadaan normal.
Mungkin, di tahun-tahun sebelumnya saat hari
besar atau hari raya….
Selalu ada orang-orang yang mengalami
sebaliknya.
Perayaan tidak terjadi, malah tengah berada
di tengah situasi sulit.
Waktu kita, tidak sama dengan waktu Tuhan.
Saya tidak mengeluh, tetap berusaha melihat
kebaikan dalam situasi ini.
Masih bersyukur, Tuhan mempertemukan kami
sekali lagi.
Meskipun harus lewat peristiwa berpulangnya kakak
saya.
Di balik tawa mungkin ada tangis; kegembiraan dapat berakhir
dengan kedukaan.
--- Amsal 14:13 (BIS/Bahasa Indonesia Sehari-hari)
Amsal mengingatkan saya bahwa hidup ini adalah jalinan suka dan
duka.
Ada tawa, juga ada tangis.
Kegembiraan dan kesedihan silih-berganti.
Tidak ada yang selalu pasti.
Roda kehidupan membawa kita naik dan turun.
Percaya kepada bimbingan-Nya di dalam setiap keadaan.
Aku berserah kepada-Mu, Tuhan.
Jadilah nahkodaku selalu di dalam mengarungi perahu kehidupan ini.
Amin.
(-fon-)/Fonny Jodikin
No comments:
Post a Comment